PANTURAINSIDE.COM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar” dan bahkan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahannya sendiri.
Sebagaimana dilansir dari laman The Guardians, pernyataan Trump disampaikan tidak lama setelah ledakan besar terdengar di sejumlah wilayah pusat ibu kota Iran, Tehran. Salah satu serangan dilaporkan terjadi di area yang tidak jauh dari kantor pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Seorang pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters menyebut negaranya tengah menyiapkan “balasan yang menghancurkan” atas serangan tersebut.
Di sisi lain, situasi di Israel juga memanas. Ledakan mengguncang wilayah utara negara itu ketika sistem pertahanan udara berupaya mencegat rudal Iran yang diluncurkan sebagai bentuk pembalasan. Sebelumnya, pemerintah Israel telah menetapkan status darurat nasional dan memperingatkan warga sipil agar tetap berada di dekat tempat perlindungan serangan udara. Langkah tersebut diambil sebagai antisipasi terhadap kemungkinan serangan drone dan rudal dari Iran.
Tidak hanya di Iran dan Israel, suara ledakan juga terdengar di Bahrain, negara yang menjadi lokasi pangkalan armada Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang meluas dan berpotensi melibatkan lebih banyak pihak di kawasan.
Sebagai dampak langsung dari meningkatnya ketegangan, Iran dan Israel sama-sama menutup wilayah udara mereka bagi penerbangan sipil. Langkah ini diambil demi keamanan di tengah ancaman serangan lanjutan.
Serangan terhadap Iran terjadi hanya beberapa jam setelah Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap perkembangan terbaru dalam perundingan program nuklir Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat diketahui telah meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut, termasuk dengan mengerahkan dua kelompok kapal induk tempur sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka.
Baik Amerika Serikat maupun Israel secara terbuka menyuarakan keinginan terjadinya perubahan rezim di Iran. Dalam sebuah video yang diunggah di platform Truth Social miliknya, Trump secara langsung menyerukan kepada rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan” mereka. Ia bahkan menawarkan imunitas kepada militer Iran jika bersedia menyerah, namun mengancam dengan “kematian pasti” apabila memilih untuk melawan. Trump menyebut bahwa “waktu kebebasan” bagi rakyat Iran telah tiba dan mendorong mereka untuk bangkit melawan otoritas yang berkuasa.
Pemerintah Israel juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran melalui unggahan berbahasa Persia di kanal Telegram khusus. Dalam pesan tersebut, Israel menyatakan bahwa rakyat Iran tidak sendirian dan mengajak mereka membagikan foto serta video aksi protes anti-pemerintah. Seruan itu disertai pernyataan bahwa bersama-sama mereka dapat mengembalikan Iran ke masa kejayaannya.
Meski demikian, pihak Amerika Serikat dan Israel menegaskan bahwa serangan yang dilakukan merupakan langkah pencegahan terhadap ancaman yang dinilai berasal dari Iran. Mereka menggambarkannya sebagai serangan pre-emptive untuk mengantisipasi potensi bahaya yang lebih besar.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, berada dalam kondisi aman. Kantor berita Fars juga mengabarkan adanya tujuh titik yang terkena dampak rudal di distrik Keshvardoost dan Pasteur di Tehran.
Perkembangan ini terjadi hanya beberapa pekan setelah otoritas Iran dilaporkan menindak keras gelombang protes besar-besaran di dalam negeri. Kelompok hak asasi manusia menyebut ribuan orang tewas dalam upaya penumpasan tersebut.
Konflik yang kini melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi membawa dampak luas bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Dunia internasional pun kini menanti langkah berikutnya dari masing-masing pihak, sembari mencemaskan kemungkinan eskalasi yang lebih besar.






















