PANTURAINSIDE.COM – Kemeriahan suasana mudik tahun 2026 terasa begitu hidup di berbagai penjuru Kabupaten Wonosobo. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah gelaran “Mumbul Bareng Randumas” yang berlangsung di Desa Semayu, Kecamatan Selomerto, pada Senin (23/3/2026). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian besar Festival Balon Udara yang digelar serentak di 23 titik berbeda di wilayah tersebut.
Kegiatan yang dipusatkan di Stadion Randumas ini turut dihadiri oleh perwakilan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), di antaranya Disperkimhub, Disparbud, serta DPPKBPPA. Mereka hadir mewakili Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat. Dalam sambutan resminya, Bupati menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada masyarakat, sekaligus mengajak seluruh elemen untuk terus mempererat tali persaudaraan serta berperan aktif dalam pembangunan daerah.
Festival balon udara sendiri merupakan agenda rutin tahunan yang berlangsung mulai 22 hingga 29 Maret 2026, dengan puncak acara yang dipusatkan di Alun-Alun Wonosobo. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mencerminkan nilai kreativitas serta semangat kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam perkembangannya, festival ini telah bertransformasi menjadi salah satu magnet wisata unggulan Wonosobo. Daya tariknya tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga telah menjangkau perhatian nasional hingga mancanegara. Kehadiran peserta dari berbagai daerah semakin memperkuat posisi tradisi balon udara sebagai identitas budaya yang membanggakan.
Pada gelaran di Randumas, sebanyak 50 balon udara turut memeriahkan acara. Para peserta datang dari berbagai wilayah seperti Pekalongan, Simbang, Gumawang, Kalikajar, Semayu, hingga Karangluhur. Meskipun terdapat beberapa balon yang mengalami kerusakan, panitia memastikan bahwa seluruh kegiatan tetap berjalan aman tanpa adanya penerbangan balon secara liar.
Ketua panitia, Sumarno, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap festival ini sangat tinggi. Ia memperkirakan jumlah pengunjung mencapai sekitar 12 ribu orang, yang tidak hanya berasal dari Wonosobo, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Purbalingga, Magelang, hingga luar pulau.
Dari sisi ekonomi, festival ini memberikan dampak yang cukup signifikan bagi masyarakat setempat. Sekitar 90 pelaku UMKM ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, ditambah dengan puluhan pedagang keliling yang turut meramaikan suasana. Perputaran uang selama acara diperkirakan mencapai Rp30 juta hingga Rp40 juta, yang tentu menjadi peluang besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat.
Pemerintah daerah pun menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan festival ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi keamanan, pelaksanaan acara berlangsung dengan tertib berkat kerja sama antara aparat kepolisian, TNI, Linmas, serta panitia. Pengaturan arus lalu lintas juga berjalan dengan baik meskipun terjadi peningkatan volume kendaraan selama acara berlangsung.
Panitia bersama pemerintah juga mengingatkan para peserta untuk tetap mematuhi aturan keselamatan, seperti penggunaan minimal tiga tali pengikat pada balon udara dan larangan menerbangkan balon secara bebas. Selain itu, para pengunjung juga diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan demi kenyamanan bersama.
Apresiasi pun diberikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara ini, mulai dari panitia, komunitas balon udara, pemerintah desa, hingga masyarakat luas.
Ke depannya, Festival Balon Udara Wonosobo diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, memperkuat kebersamaan sosial, serta meningkatkan citra Wonosobo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.






















